PutusAsa. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!. Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! Dalam sebuah fragmen kecil, dikisahkan iblis membuat iklan menawarkan Disadurdari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juni 2020 Baca: 2 Timotius 2:1-7 "Terakhir memuji Tuhan adalah saat mengikuti ibadah di hari Minggu." Artinya di luar jam-jam ibadah mereka tak pernah memuji Tuhan. "Jagalah dirimu, janganlah berpaling kepada kejahatan, karena itulah sebabnya engkau dicobai oleh sengsara." Ayub 36:21 RenunganMinggu Sengsara ke - 5, Minggu 29 Maret 2020 Oleh Ketua BPMS GMIM Pdt. DR. Hein Arina RenunganAir Hidup . Menu. Home; Renungan; Cinta; Sahabat Seperjalanan; Renungan. Kehormatan. Posted by Alamta Singarimbun on July 16, 2017 July 16, 2017. Viewed : 985 views. RENUNGAN Mazmur 75:6-7 Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu RenunganHarian Air Hidup: TUHAN MENGHITUNG SENGSARA KITA Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku. < Mazmur 56:9-10 > NASIHATUNTUK ANGGOTA SIDI BARU. P : Kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kit. Karena itu, hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia; hendaklah kamu berakar di dalam Dia, dan di bangun di atas Dia; hendaklah kamu bertambah teguh, di dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu berlimpah dengan syukur. . Wahyu 61-8 Apakah Empat Penunggang Kuda dalam kitab Wahyu sudah datang? Lalu aku melihat Anak Domba itu membuka salah satu dari ketujuh meterai itu, dan kudengar salah satu dari keempat makhluk itu berkata dengan suara yang menggelegar, "Mari!" Jadi aku menengadah dan melihat seekor kuda putih, dan penunggangnya memegang sebuah busur panah. Dan dia diberikan mahkota, dan dia pergi untuk mengalahkan dan menaklukkan. Dan saat Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, kudengar makhluk yang kedua itu berkata, "Mari!" Kemudian kuda lain keluar. Warnanya merah terang, dan penunggangnya diberi kuasa untuk menyingkirkan kedamaian dari bumi dan membuat manusia saling membunuh. Dan dia diberikan sebilah pedang yang besar. Dan saat Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, kudengar makhluk yang ketiga itu berkata, "Mari!" Kemudian aku menengadah dan melihat seekor kuda hitam, dan penunggangnya memegang sebuah timbangan di tangannya. Dan kudengar suara yang kedengarannya seperti suara yang berasal antara keempat makhluk itu, berkata, "Satu liter gandum seharga satu dinar, dan tiga liter jelai seharga satu dinar, dan jangan merusakkan minyak dan anggur itu". Dan saat Dia membuka meterai yang keempat, kudengar suara makhluk yang keempat itu berkata, Mari dan lihatlah. Dan aku menengadah, dan melihat seekor kuda pucat dan nama yang menungganginya adalah Maut, dan Neraka mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi, untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan binatang-binatang buas di bumi. Wahyu 61-8 Yesaya 506Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan - Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. Penderitaan yang benar adalah harga untuk kesetiaan pada panggilan Tuhan Allah dan pembenaran-Nya atas ketaatan hamba-Nya. Penderitaan adalah masalah utama yang dihadapi nabi Yesaya. Di mana ia menderita oleh karena perbuatan musuh-musuhnya. Renungan Harian Kristen - Gembala yang Baik Apakah kita sanggup memberi punggung kita untuk disiksa dan didera, bahkan memberi pipi untuk dicabut janggut kita, terhadap orang yang berbuat jahat dan mengkhianati kita? Tentu tidak. Pasti ada niat membalas kejahatan orang yang menyakiti kita. Bahkan kita mendengar orang berkata “pembalasan lebih kejam dari perbuatan.” Kesengsaraan ini menunjuk pada apa yang dialami Guru Agung, Yesus Kristus yang rela memberi hidup-Nya sebagai tebusan ganti umat yang berdosa. Dia adalah Hamba yang menderita, bahkan satu-satu-Nya yang menderita sesuai yang dimaksudkan dalam nubuatan Yesaya. Yesus Kristus merelakan punggung-Nya dicambuk, dipukul, ditampar bahkan wajah-Nya hampir tidak dapat dikenali. Sebab bukan saja janggut-Nya dicabut, tapi wajah-Nya dinodai dan diludahi bahkan sekujur tubuh-Nya babak belur oleh serangan cambuk kekejaman manusia. Tidak ada seorangpun yang membela- Nya ketika Yesus menderita dengan sangat parah di kayu Salib, di bukit Golgota Mat. 2732. Malahan Dia disangkal sebanyak tiga kali oleh murid terkasih-Nya, Simon Petrus dengan perkataan; “saya tidak kenal orang itul” Dalam semua penderitaan yang dialami Tuhan Yesus Kristus, nyata sikap kesetiaan, ketaatan dan kerelaan hati dalam menjalani semuanya. Kuncinya ialah, bahwa Hamba Tuhan itu memiliki persekutuan yang akrab dan dekat dengan Tuhan Allah. Dengan setia Yesus Kristus menjalani kehendak Bapa-Nya. la selalu berdoa sebagai manusia, mendengar kehendak Bapa-Nya dan melakukannya. Sehingga menghadapi dan mengalami penderitaan kesetiaan-Nya diteguhkan. Baca juga Renungan Harian Kristen, Baca Yesaya 504-5, Lidah dan Telinga Seorang Murid Baca juga Renungan Harian, Ibrani 121-3, Pengharapan dan Ketekunan Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. Sebagai keluarga Kristen, marilah di Minggu Sengsara ini kita insaf dan sadar akan bentuk-bentuk pelanggaran kita. Tanpa sadar mungkin kita juga memperlakukan keluarga atau sesama kita, layaknya penjahat hanya karena iri hati dan kebencian. Tuhan Yesus Kristus begitu mengasihi kita. Sebab itu Ia menderita karena kasih-Nya kepada kita semua. Bagaimanakah dengan kita sebagai umat-Nya? Yesus Kristus memberi teladan bagaimana seharusnya hidup mengasihi Bapa dan sesama. Kitapun meski menderita, kiranya tetap berbuat baik dan taat pada kehendak Tuhan Allah. Amin. DOA Tuhan Allah, terpujilah Tuhan Yesus Kristus yang karena kasih-Nya bagi kami manusia, rela menderita bahkan mati di Kayu Salib sebagai tanda ketaatan kepada Bapa. Ajarilah kami juga taat wa/au harus menderita karena berbuat baik. Dalam nama Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. - Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. Steph Tupeng Witin SVD dengan judul Roti Hidup. RP. Steph Tupeng Witin menulis Renungan Harian Katolik ini dengan merujuk bacaan Injil Yohanes 651-58; Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Di akhir Renungan Harian Katolik ini disediakan pula teks lengkap bacaan Minggu 11 Juni 2023 beserta mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil. Dalam Injil Yohanes hari ini Yesus sampai lima kali berkata kepada murid-muird-Nya, bahwa mereka harus makan daging-Nya. Yesus menegaskan bahwa dalam diri-Nya, Allah memasuki diri dan hidup kita. Ia menjadi tubuh dan darah, menjadi manusia seperti kita. Murid-murid-Nya bukan hanya mengalami kesulitan memahami perkataan-Nya, bahwa mereka harus makan tubuh dan darah-Nya, tetapi juga sulit untuk percaya bahwa dalam diri Yesus, Allah sungguh memasuki dunia ini. Dalam Injil Yohanes, “daging” dipakai untuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, tetapi tanpa mengikutsertakan sisi-sisi jahat. Matius, Markus dan Lukas dan juga Paulus memakai kata “tubuh” dengan arti yang sama. Bahkan dalam tulisan-tulisan Paulus, “daging” memiliki konotasi buruk, yakni manusia rapuh sejauh dikuasai dosa dan untuk pengertian ini Yohanes memakai kata “dunia”. Baca juga Renungan Harian Katolik Sabtu 10 Juni 2023, Janda Miskin Ini Memberi dari Kekurangannya Dalam Pembukaan Injilnya, Yohanes menulis, Sang Sabda menjadi “daging” Yoh 114. Artinya Yang Ilahi itu mendatangi dunia dalam ujud manusia biasa, bahkan rapuh. Hanya dengan demikian Ia dapat sungguh merasakan kuatnya kuasa yang jahat walaupun Ia sendiri tidak kalah dan tidak menjadi bagian dari kuasa itu. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak seluruhnya dapat dikuasai yang jahat. Maka Ia dapat menjadi tumpuan harapan orang banyak. Siapa saja yang kemudian mengikuti-Nya dan bersatu dengan Dia, akan selamat dan mencapai hidup kekal. Sementara terkait dengan “darah”, dalam pengertian waktu itu, “darah” biasa dipakai untuk menyebut tempat nyawa. Di situlah letak kehidupan. Dengan menyerahkan nyawa-Nya-darah-Nya-bagi orang banyak, Yesus berbagi kehidupan dengan orang banyak pula. Renungan Kristen pada Ibadah Rumah Tangga Minggu Sengsara adalah sebuah refleksi terhadap peristiwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus di kayu salib. Minggu Sengsara, yang juga dikenal sebagai Minggu Agung, yaitu periode tiga hari sebelum Paskah di mana umat Kristen merayakan Kenaikan Tuhan Yesus Rumah Tangga Minggu Sengsara biasanya dilakukan di rumah bersama keluarga dan dapat melibatkan pembacaan Alkitab, renungan, doa, dan renungan ini adalah untuk membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang pengorbanan Kristus di kayu salib dan memperdalam pengalaman rohani kita sebagai Ibadah Rumah Tangga Minggu Sengsara, kita diingatkan tentang penderitaan dan sengsara yang dialami oleh Yesus Kristus, serta makna yang terkandung di dalamnya. Kita juga diingatkan tentang kebesaran kasih Allah yang telah mengorbankan Putra-Nya sendiri untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan Ibadah Rumah Tangga Minggu Sengsara, kita diharapkan dapat memperdalam hubungan kita dengan Tuhan dan meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya hidup dengan iman dan kasih untuk adalah Renungan Ibadah Rumah Tangga Minggu SengsaraRenungan Kristen pada Ibadah Rumah Tangga Minggu Sengsara akan membawa kita untuk merenungkan dan memahami lebih dalam arti dari penderitaan dan sengsara yang dialami oleh Yesus Kristus saat ia disalibkan di kayu kita memperhatikan sengsara dan penderitaan yang dialami oleh Yesus, kita dapat belajar beberapa pelajaran penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang penderitaan dan sengsara Yesus, kita melihat betapa besar kasih Allah terhadap kita sebagai umat-Nya. Ia rela mengorbankan putra-Nya sendiri demi menyelamatkan kita dari dosa dan tetap setia dan taat kepada kehendak Bapa-Nya, bahkan ketika Ia mengalami penderitaan dan sengsara yang luar biasa. Hal ini mengajarkan kita untuk tetap teguh dalam iman dan taat pada kehendak Allah, meskipun kita dihadapkan dengan tantangan dan Yesus disalibkan, Ia meminta pengampunan bagi orang-orang yang telah menyiksa dan menyombongkan diri atas penderitaannya. Hal ini mengajarkan kita untuk memaafkan orang lain, bahkan dalam keadaan sulit dan sengsara Yesus mengajarkan kita tentang makna kehidupan dan kematian. Ia memperlihatkan bahwa hidup kita bukanlah tentang kenikmatan duniawi semata, namun juga tentang pengorbanan dan pelayanan kepada sesama, serta kesiapan kita menghadapi kematian dengan Yesus berada di taman Getsemani, Ia berdoa agar cawan penderitaan yang harus dijalani-Nya dapat diangkat. Namun, pada akhirnya, Ia menerima kehendak Bapa dan menjalani penderitaan-Nya dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Kita juga diajarkan untuk menerima takdir dan kehendak Allah dalam hidup kita, meskipun terkadang hal tersebut mungkin terasa sulit atau tidak sesuai dengan keinginan dan sengsara yang dialami oleh Yesus adalah saat-saat ketika Ia membutuhkan persekutuan dengan Bapa-Nya yang lebih dalam. Hal ini mengajarkan kita pentingnya membangun hubungan yang erat dengan Tuhan melalui doa, pembacaan Firman, dan ibadah Kristus adalah contoh nyata dari pengorbanan yang luar biasa. Ia mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan umat manusia. Hal ini mengajarkan kita untuk siap mengorbankan diri kita untuk orang lain, bahkan ketika hal tersebut terasa sulit. Tema kita hari ini Ia harus dihukum mati. Siapa yang harus dihukum mati? Kita semua tahu, Dialah Yesus Tuhan kita. Ia harus dihukum mati. Ini keputusan sebuah pengadilan Mahkamah Agama Sanhedrin. Di Israel masa itu, Mahkamah Agama adalah dewan tertinggi di Yerusalem untuk urusan agama dan segala hal yang berhubungan dengan orang Yahudi. Mahkamah Agama berjumlah 70 orang dan dipimpin seorang Imam Besar serta beranggotakan Imam – imam kepala dan tua – tua bangsa Yahudi. Proses pengadilan dan keputusan waktu itu disetujui juga oleh Penguasa Romawi. Pada suatu waktu dalam sejarah dunia tercatat pengadilan terhadap Yesus menghasilkan keputusan Ia harus dihukum mati. Keputusan ini adalah sebuah proses yang dimulai dari kebencian yang merasuk hati dan tipu muslihat yang menguasai otak. Persekongkolan untuk menangkap dan membunuh Yesus sudah dibahas sebelumnya di Istana Imam Besar Kayafas ini Matius 261-5. Rencana sukses dijalankan dan orang – orang yang bersekongkol menanti hasil tipu muslihat itu. Para Ahli Taurat dan tua – tua telah berkumpul di Istana Imam Besar Kayafas. Di Istana Imam Besar yang seharusnya menjadi tempat keadilan dan kebenaran dinyatakan, tempat perlindungan bagi orang-orang yang lemah dan tertindas ternyata telah berubah menjadi singgasana kelaliman. Yesus yang telah ditangkap di bawah ke situ. Imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus. Mereka bahkan menyiapkan banyak saksi dusta. Mereka memfitnah Yesus. Mereka memutarbalikan ajaran dan perkataan Yesus. Tapi Yesus tidak membuka mulut untuk menjawab atau membantah atau membela diri dari setiap dakwaan yang dituduhkan kepada-Nya. Yesus diam bukan karena Ia tak berdaya. Tapi karena Ia mengasihi kita. Yesus memilih taat dan setia pada misi BapaNya. Ketika Yesus menjawab dengan menyatakan siapa diriNya, bahwa Anak manusia akan duduk disebelah kanan Bapa yang Maha Kuasa, maka Kayafas mengoyakkan pakaiannya. Kayafas menyimpulkan Yesus menghujat Allah lalu seluruh Mahkamah Agama menjatuhkan keputusan itu Ia harus dihukum mati. Petrus yang sudah malarikan diri, ikut serta dari jauh lalu masuk dan duduk diantara para pengawal. Petrus mendengar dan mengikuti proses pengadilan dan pengambilan keputusan. Keputusan itu lalu mengesahkan apapun yang dilakukan orang terhadap Yesus. MukaNya diludahi dan ditinju. Ia dipukul dan orang banyak mengolok – olok Dia. Tapi Yesus rela meminum cawan derita, menanggung sengsara, menerima hinaan dan fitnahan, memikul Salib menempuh Via Dolorosa. Walaupun melalui keputusan pengadilan yang tidak adil tapi Yesus menerima segala bentuk ketidakadilan itu. Yesus rela mati, supaya genaplah kehendak Allah agar saya dan saudara yang berdosa beroleh selamat. Yesus sudah menanggung sengsara dan derita. Yesus sudah mati bagi kita. Kita sekalian sudah ditebus oleh darahNya yang tercurah di Golgota. Dan kita sedang menikmati anugerah keselamatanNya. Pada minggu sengsara yang ke 5 ini, mari kita merenungkan pesan Firman Tuhan bagi kita Yesus mati supaya kita yang berdosa dibenarkan sehingga kitapun dapat melakukan misi Allah untuk menyatakan kasih, keadilan, kebenaran dan untuk melakukan kehendakNya dalam hidup kita. Mari merenung dalam rasa malu dan tak layak atas apa yang Yesus alami. Mari mengoreksi hidup agar tak lagi dibungkus kemunafikan dan kepalsuan. Saudaraku, dunia saat ini sedang diguncang oleh Pandemi Global Virus Corona. Ada diantara kita yang selalu mengikuti perkembangan berita tentang Virus Corona dari berbagai media. Hari ini, sudah lebih dari kasus di dunia, lebih dari orang yang mati. Di Indonesia sebanyak 405 orang telah terinfeksi dan 38 orang meninggal dunia. Apa yang kita renungkan bertepatan dengan minggu sengsara ke-5 ini ? Sesungguhnya Tuhan mengajar kita melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam dunia ini. Tuhan menegor kita melalui Kisah Pengadilan Mahkamah Agama dalam kisah hari ini. Janganlah seperti Mahkamah Agama yang menghalalkan kejahatan. Janganlah seperti Petrus yang mengikuti pantau dari jauh lalu mencari jalan aman bahkan tak sungkan menyangkalNya saat terjepit. Tuhan juga mengajar kita melalui Pandemi Virus Corona. Betapa tidak, virus corona telah menjungkirbalikan semua kesombongan manusia. Yerusalem menjadi sunyi, Vatikan sepi, tempat – tempat ritual agama menjadi kosong. Event olahraga dibatalkan, ekonomi negara adidaya terancam ambruk. Corona memberi pesan bahwa kehidupan kita sangatlah rapuh. Jika selama ini kepala kita terangkat dengan gagah karena kita memiliki semua yang kita inginkan, maka sekarang mesti harus menunduk malu bahkan mengoyakkan pakaian tapi bukan seperti Kayafas yang mengoyakkan pakaian dengan kemunafikan. Kita mesti mengoyakkan pakaian segala dosa kita. Allah mau kita berbalik dari segala kesombongan, keegoisan, kemunafikan untuk kembali padaNya. Berhentilah bermain – main dengan ambisi untuk menguntungkan diri sendiri, untuk memperkaya diri, untuk menghalalkan segala cara tapi mengorbankan sesama dan menghancurkan alam ciptaanNya. Berhentilah menikmati keserakahan yang membuat kita lupa diri dan lupa Tuhan. Berhentilah mempertontonkan kehebatan ibadahmu tanpa solidaritas terhadap sesama. Berhentilah menggemakan nama Tuhanmu jika hanya dalam kemunafikan. Bencana ini menjadi sebuah cambuk agar kita sadar, ada Tuhan di atas segalanya. Betapa rapuhnya kita manusia. Tanpa nafas hidup anugerahNya maka kita hanya seonggok tanah. Tanpa hikmat pemberianNya maka peradaban akan mati. Ia Tuhan yang berkuasa atas alam semesta dan seisi dunia ini. Di tengah keganasan dan kegelisahan Corona, Ia Tuhan yang sudah menderita dan mati untuk kita. Apakah kita mesti menanti ancaman corona barulah kita sadar? Tidak cukupkah sengsaraNya menampar kita? Atau kematianNya menyentuh hati kita? Jadi ingatlah penciptamu, percayalah pada Juruselamatmu, bersandarlah pada penolongmu. Carilah Tuhan pada keheningan yang bermakna bukan keramaian yang semu. Temukanlah Tuhan pada via dolorosa kehidupan kita bukan hanya terbatas pada ritus – ritus agama. Berteduhlah dalam hening untuk merenung sengsara sang Mesias. Bertekunlah dalam doa agar semua pihak beroleh kekuatan dari Tuhan di dalam badai ini. Bersehatilah sebagai saudara seiman untuk saling menguatkan melewati bencana ini, entahkah saudara masih bisa bersalaman atau tidak? Entah saudara beribadah di gereja atau di rumah atau bahkan di kolong – kolong jembatan. Pelihara imanmu, syukuri hidupmu, jaga kesehatanmu, rawatlah alam disekelilingmu, berjuanglah bersama para pejuang kemanusiaan untuk memberi penghiburan dan harapan dari Tuhan dalam masa – masa sulit seperti ini. Itu Misi Allah yang mesti kita lanjutkan. Melakukan misi Allah meski dalam diam jauh lebih berarti daripada terlibat dalam kegaduhan adu argumentasi, adu ayat Kitab Suci, adu pembelaan diri, adu teori dan lain sebagainya. Allah menghendaki kita menempuh via dolorosa hidup kita sekarang dalam perenungan yang dalam, dalam keheningan yang sunyi, dalam penyesalan yang sungguh dan dalam ketaatan penuh pada Bapa yang memelihara kita di badai topan dunia ini termasuk di badai topan corona. Pada Minggu Sengsara V ini kita tetap dapat bersukacita dan bersyukur. Minggu sengsara yang ke – 5 dalam Kalender Gerejawi disebut Minggu Laetare. Laetare artinya “bersukacitalah”. Kita bersyukur karena Allah memegang tangan kita melewati badai ini. PenyertaanNya sempurna, janjiNya meneguhkan iman kita sehingga mulut serta hati kita tetap memuji Dia “Biar badai menyerang, biar ombak menerjang, aku akan bersyukur kepada Tuhanku” Kidung Jemaat 4502. Selamat Hari Minggu. Selamat melanjutkan perenungan pada Minggu – minggu sengsara. Tuhan memberkati. Puji Tuhan, Shalom sahabat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus. Pada kesempatan ini saya akan sharing tentang renungan harian air hidup yang bisa kita nikmati bersama setiap saat. Semoga renungan yang akan saya berikan bisa menguatkan kehidupan kalian dan bisa menjadi berkat untuk dalam kehidupan kita pasti pernah dihadapkan pada sebuah pilihan yang mengharuskan kita untuk membuat sebuah keputusan. Meski sudah membuat sebuah keputusan, tentu bisa terjadi dan juga tidak segala keputusan mutlak di atur oleh Tuhan Yesus. Oleh karena itu, jika keputusan yang sudah kita buat dan akhirnya tidak terwujud kita tidak perlu marah, sedih dan iman kita lebih kuat, mari kita baca renungan harian air hidup terbaru 2023 berikut Renungan Harian Air Hidup Hari Ini Tahun 2023Di bawah ini ada banyak judul renungan Kristen yang bisa kita nikmati bersama setiap hari secara gratis. Membaca renungan itu tidak membuat diri kita rugi, melainkan iman kita akan semakin itu langsung saja kita mulai membaca dari judul yang pertama, berikut Hidup Sejahtera dan Panjang Umur“Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.”Bacaan Injil Amsal 3 1-2Di dalam renungan singkat hari ini kami akan memberikan kepada kamu rahasia untuk hidup sejahtera dan panjang orang tua pastinya berharap supaya anak-anaknya dapat hidup damai sejahtera dan bahagia. Supaya harapan tersebut tercapai tak jarang orang tua memberi nasihat untuk adalah salah satu wujud tanggung jawab orang tua atas perintah yang Tuhan berikan untuk mendidik anak-anak yang telah dipercayakan-Nya pada mereka. Orang tua pun harus meyakinkan anak-anak untuk memperhatikan serta melakukan apa yang orang tua ini sama dengan Salomo, dirinya meyakinkan anak-anaknya untuk memelihara nasihat orang tua supaya di karunia hidup lebih sejahtera dan umur panjang. Salomo menekankan pentingnya taat pada Allah dan hidup menurut menaati Allah hanya bisa dilakukan jika percaya kepada Allah dengan segenap hati dan tak meragukan-Nya. Kepercayaan tersebut jadi dasar dari hubungan antara manusia dengan Allah. Percaya bahwa Allah sangat mengasihi dan setia memelihara kita bisa melakukan kehendak-Nya, Allah berjanji akan membawa kita mencapai sasaran yang sudah Ia tetapkan bagi kehidupan firman Tuhan hari ini tidak hanya bisa di pakai dalam renungan firman Tuhan untuk ulang tahun anak namun juga dapat kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari jika kita ingin memiliki umur yang panjang dan hidup damai Tuhan mengatakan bahwa damai sejahtera dan umur lanjut merupakan sebuah bonus hidup. Pada ayat Alkitab hari ini kita di ajak untuk memiliki kehidupan yang tetap memegang teguh firman kita belajar untuk berdoa supaya memiliki usia yang panjang sesuai dengan yang kita impikan. Selain itu, berdoa perlu juga berupaya untuk hidup sehat baik secara fisik maupun tak hanya usia panjang yang kita doakan, tetapi juga bagaimana supaya pada umur yang pajang tersebut, hidup kita dapat di isi dengan berpegang teguh pada ajaran dan perintah Tuhan Mujizat Tuhan Pasti Terjadi“Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban, Engkau telah menyatakan kuasa-Mu diantara bangsa – bangsa“Bacaan Injil Mazmur 77 15Didalam menjalani hidup ini. Pasti anda tidak akan terlepas dari sebuah masalah. kadang masalah tersebut juga tidak bisa anda selesaikan dengan kekuatan anda sendiri. oleh sebab itu, anda perlu sebuah mujizat daripada Tuhan untuk menyelesaikan masalah didalam kehidupan renungan harian air hidup hari ini, kita akan belajar bersyukur terhadap mujizat yang pernah kita alami didalam hidup harus jujur terhadap diri kita sendiri dan mau mengkaui segala keterbatasan terhadap kemampuan dan kekuatan yang ada dalam diri kita. tidak ada satupun yang bisa kita andalkan bahkan kita sombongkan terhadap diri kita tidak akan mampu berbuat apa – apa, jika tiada pertolongan dan mujizat yang telah diberikan Tuhan. langkah utama untuk kita bisa mendapatkan mujizat dan pertolongan Tuhan adalah kita harus percaya terhadap sekali – kali kita ragu terhadap kuasa Tuhan. kita semua perlu meyakini bahwa Tuhan kita Yesus Kristus mampu mengerjakan perkara kecil maupun perkara besar didalam kehidupan kita. Meskipun didalam kehidupan kita sehari – hari, kita sering meragukan kuasa-Nya. tapi perlu kita ingat bahwa Tuhan sangatlah mampu memberikan mujizat serta pertolongan didalam hidup kita tepat pada kasih Tuhan, kita boleh merasakan anugerah dan mujizat didalam hidup kita. kasihNya yang diberikan kepada kita bukan kasih yang sembarangan. tapi kasih yang diberikan Tuhan Yesus ini adalah kasih karunia terbesar bagi setiap orang yang percaya itu dibuktian-Nya melalui kematian-Nya di kayu salib. Dia mau dengan rela menebus umat berdosa supaya mendapatkan keselamatan yang kekal. kita patut bersyukur bahwa kita memiliki Tuhan Yesus yang sangat mengasihi Tak hanya Mujizat saja yang bisa Tuhan lakukan. Tapi kasih Tuhan yang tidak terbatas ini sehingga mampu mengasihi semua orang baik itu orang yang berdosa. Dan kasih yang diberikan Tuhan Yesus kepada kita. adalah kasih yang kekal dan abadi, tidak ada satupun orang yang mampu kita baca dari kitab ibrani “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama – lamanya”Kuatnya iman kita kepada Tuhan, membuat kita bisa merasakan mujizat yang diberikan Tuhan. Jika kita sendiri ragu terhadap kuasa Tuhan, tentu kita akan susah merasakan Mujizat yang diberkan Tuhan diatas hidup Tuhan Dapat Merubah Keputusan“Beginilah Firman Tuhan Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, Sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi”Bacaan Injil 2 Raja – Raja Pasal 20 1 – 11Renungan harian air hidup ini menceritakan kisah hidup dari tokoh alkitab yang bernama Hizkia terhadap penyakit yang dialaminya. Oleh karena penyakit tersebut, Hizkia nyawa Hizkia terancam. Namun karena belas kasih Tuhan, Hizkia boleh sembuh dari penyakitnya, bahkan diberikan kesempatan hidup selama 15 2 Raja – Raja 20 3, kita bisa belajar tentang kesetiaan dan ketekunan dalam berdoa yang sudah di contohkan oleh Hizkia. Berkaitan dengan judul kita yaitu Tuhan dapat merubah keputusan ini. kita perlu tekun melakukan kehendak situ kita dapat menyentuh dan menggerakan hati Tuhan untuk merubah keputusan didalam kehidupan kita menjadi sebuah keputusan yang itu, Tuhan memberikan perintah kepada Nabi Yesaya untuk menyampaikan berita kepada Hizkia tentang penyakitnya. Pesan yang disampaikan Nabi Yesaya tersebut adalah Hizkia tidak akan bisa sembuh dari penyakitnya, bahkan tidak lama lagi akan perkataan tersebut, Hizkia tidak tidak pasrah dan menggerutu terhadap Tuhan, melainkan Ia lebih tekun didalam doa dan memohon ampun kepada Kitab Raja – Raja 20 2 – 3, dikatakan bahwa Hizkia memalingkan wajahnya kepada sebuah tembok dan menyampaikan isi hatinya bahwa ia telah melakukan yang terbaik kepada Tuhan dan telah bertekun didalam dan melihat ketekunan dari Hizkia, Tuhan berbelas kasihan kepada Hizkia. Sehingga sakit yang dialami hizkiapun disembuhkan oleh Tuhan. Bahkan Tuhan juga memberikan kesempatan hidup selama 15 Tahun. Selain itu Tuhan juga melepaskan Hizkia dari tangan raja asyur dan memagari kota dari Hizkia ini, juga mengingatkan saya terhadap cerita kota Niniwe yang akan dihancurkan oleh Tuhan karena perbuatan kejahatan yang dilakukan oleh seluruh penduduk kota tersebut. Ketika mengetahui hal tersebut, Raja dari kota Niniwepun takut dan mengajak seluruh rakyat bahkan ternak untuk yang dilakukannya yaitu berpuasa dan berkabung. Melihat apa yang telah dilakukan oleh seluruh penduduk kota niniwe tersebut, Tuhan memiliki rasa belas kasihan kepada kota tersebut. Sehingga penghancuran kota tersebut pada akhirnya di harus bersyukur kepada Tuhan Yesus, karena Dia adalah juru selamat kita yang sangat baik, murah hati, penuh dengan belas kasihan, penuh cinta bagi setiap orang yang melakukan kehendaknya dengan hati yang melalui pertobatan yang kita lakukan ini tentu akan menggerakan hati Tuhan untuk selalu mengampuni kita dan merubah kehidupan kita melalui keputusan yang sudah di buat oleh sudah membaca renungan harian air hidup hari ini, Tuhan Yesus Memberkati!

renungan air hidup minggu sengsara